Candraini's avatar

Candraini

Aku suka daun berguguran. Setia jatuh tanpa beban. Elokkan dalam setiap guguran kata-kata. Dan kini gemersiknya ucapkan rangkaian cerita - @ilmacandraini

http://ask.fm/ilmacandraini

Maaf, Kami Di Sini Hanya Berdoa

Awal Ramadhan semua berita memberitakan hal yang sama. Mereka mengabarkan duka pada dunia. Duka lama yang terkuak kembali. 

Mereka masih di sana. Masih mempertahankan tanah suci. Mereka tidak jera, mereka hanya tegap berdiri tak kenal takut. 

Entah. Tentara Israel bukan lagi manusia, karena hati mereka sudah musnah terbakar ketamakan sendiri. Ah, tidak hanya tentara. Pimpinan, sekutu, dan mereka semua yang berhati hitam tak karuan menghadang Palestina, saudaraku.

Akhir Ramadhan berita duka semakin menambah tetesan air mata doa yang tak terhitung dari kami, Umat Islam, Masyarakat Dunia. Korban berjatuhan terhitung kuantitatif dan terus bertambah seperti papan score rusak.

Maaf, kami di sini hanya berdoa.

20:51

Bandung, (di bawah lampu kuning sendu), 30 Juli 2014. 

zahidhdr:

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sungguh keberadaan agama Islam dan keberlangsungan dunia ini adalah dengan keberadaan ilmu agama, dengan hilangnya ilmu akan rusaklah dunia dan agama. Maka kokohnya agama dan dunia hanyalah dengan kekokohan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 500)

Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Mahanazi

Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?

Apakah sampai padamu berita

tentang rumah-rumah yang dihancurkan 

tanah-tanah meratap berpindah tuan,

bahkan manusia yang dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita

tentang airmata yang tumpah 

dan menjelma minuman sehari-hari

tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali 

atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Apakah sampai padamu

berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak

tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?

Para balita yang menggenggam batu

dengan dua tangan mungil mereka

menghadang tentara zionis Israel 

lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha

di halamannya menggenang darah

dan tubuh-tubuh yang terbongkar

Peluru yang berhamburan di udara

menyanyikan lagu kematian menyayat nadi

kekejaman yang melebihi fiksi

dan semua film yang pernah kau tonton

di bioskop dan televisi

Kebiadaban yang mahanazi

Tapi orang-orang di negeriku masih saja mengernyitkan kening :

"Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina? Persoalan di negeri sendiri menjulang!"

Mereka bersungut-sungut tak suka

Membantu, tak jarang terpengaruh

menuduh pejuang kemerdekaan Palestina

yang membela tanah air mereka sendiri

sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka :

Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini

Atas nama kemanusiaan : menyala-lah!

Kita tak bisa hanya diam

menyaksi pagelaran mahanazi

sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna

dan bercanda di ruang keluarga

kita tak bisa sekadar

menampung pembantaian-pembantaian itu dalam batin

atau pura-pura tak peduli

Seorang teman Turki berkata :

mereka yang membatasi ruang kemanusiaan

dengan batas-batas negara

sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab

belum tibakah masanya bagi kalian

bersatu, membuka hati, berani

berhenti mengamini nafsu Amerika

yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon,

apakah Perserikatan Bangsa Bangsa itu nyata?

Sebab tak pernah kami dengar

PBB mengutuk dan memberi sanksi

pada mahanazi teroris zionis Israel 

yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban

dari wajah dan hati dunia

Apakah kalian, apakah kita tak malu

Pada para syuhada flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu :

menyebarkan tragedi keji ini pada hati-hati yang bersih,

memberi meski sedikit apa yang kita punya

dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu?

Tentang Palestina yang bersemayam kokoh

di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus

dari penglihatan dan ingatan,

airmata, darah, dan denyut nadi manusia

: Lawan Mahanazi!

Helvy Tiana Rosa - Antologi puisi (Mata Ketiga Cinta)

Happy Eid Mubarak!

Hari Terakhir

"Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimu tuhibul ‘afwa fa’fu ‘annii."

"Ya, Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun dan Maha Mulia. Engkau-lah Yang suka mengampuni, maka ampunilah aku."

Terus saja terucap lagi dan lagi doa itu di antara setiap malam bulan ini, bulan Ramadhan. Doa sesudah shalat witir yang jika kita renungkan dengan sebaik-baiknya, secermat-cermatnya, dan resapi sampai relung jiwa, apakah kau menangis?

Ya. Apakah kau menangis?

Tidak seorang pun yang tahu akan semua dosa kita, bukan? Hanya Dia, Dia Yang Maha Mengetahui akan segala dosa yang kita perbuat. Tak terhitung bisa dibilang, bahkan mungkin sudah melebihi takaran terberat. 

Apakah kau menangis?

Jika kita mengingat lagi dari usia baligh kita, tentang apa yang telah kita perbuat. Meski malam menjadi pagi dan pagi menjadi malam. Dosa tidak mengenal waktu. Dalam setiap nafas yang diberikan untuk kita secara cuma-cuma. 

Dan apakah kau menangis?

Waktu terus saja berdetak, seirama dengan jantung kita yang belum berhenti.

Ya. Apakah kau menangis?

Seperti dosa. Pengampunan tidak mengenal waktu. 

07:03

Bandung (di sudut kamar) , 27 Juli 2014.

Cintamu Padaku

Cintamu padaku

adalah kerinduan waktu

memeluk bisu di batu-batu

saat gerimis jatuh

Cintamu padaku

adalah ketabahan matahari

tatkala menumbuhkan mawar

di nadi sunyi

Cintamu padaku

adalah keindahan purnama

kala meneteskan cahaya

pada lara

Cinta tanpa musim itu 

memberi napas dan sayap

pada beribu puisi abadi

tentang kita

:Pernahkah kusampaikan padamu?

oleh Helvy Tiana Rosa (Antologi Puisi - Mata Ketiga Cinta)

Tidak banyak lagi kata selain air mata. #savegaza #savepalestine

Open Cbox