Candraini's avatar

Candraini

Aku suka daun berguguran. Setia jatuh tanpa beban. Elokkan dalam setiap guguran kata-kata. Dan kini gemersiknya ucapkan rangkaian cerita - @ilmacandraini

Tidak banyak lagi kata selain air mata. #savegaza #savepalestine

Politik?

Aku lahir di sini. Ya. Di sini. Dimana aku sedang memijakkan sepasang kaki kecilku di sini.

Aku tumbuh di sini. Dimana sedari kecil aku tatap kemegahan ciptaan-Nya yang ia simpan. 

Aku tertawa di sini. Di antara mereka dalam bahasa kita yang aneka ragam. 

Ya. Di sini. Di Indonesia.

Hari ini tanggal 08 Juli 2014. Bersorak sorai para politik-ers menghitung detik jamnya. Karena hari esok. Hari esok yang akan menjadi sejarah sepertinya dalam pembaharuan buku pelajaran sejarah nanti untuk anak-anakku. Mungkin.  

Tanggal 09 Juli 2014. Media televisi sudah siapkan beragam acara uniknya tersendiri di hari esok. Bahkan dalam pihaknya tersendiri. Media itu dibeli. Mereka berperan untuk menciptakan pilihan antara rakyatnya. 

Carilah yang netral?

Kenetralan disini tentu dalam kedua pihak. Antara mereka yang sedang sabar menanti keputusan. Tentu itu bukan keputusan yang mudah, bukan. Karena keputusan yang mereka buat itu sudah menjadi resiko dan tanggung jawab dalam satu waktu. 

Terkadang pikiran kita jadi capek sendiri karena opini dari berbagai media masuk tanpa disaring. Bahkan berita ‘memojokkan’ sudah tidak aneh lagi. 

Tidak semua mengerti politik. Berbagai kalangan menjadi pusat perhatian untuk beropini. Dan kini, tinggal menghitung waktu untuk hari esok. Saat pilihan terbanyak yang terpilih dari suara rakyat sendiri. Dan untuk beliau yang terpilih di hari esok, jadikan tujuan kalian menjadi satu terlebih dahulu. Jadikan Indonesia lebih baik. Ya. Hanya itu. 

13:47

Bandung, 08 Juli 2014

Ingatlah pesanku, jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti, atau dicacimaki asing karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu.

Bung Karno

Kehilangan waktu? Tidak. Waktu tetap ada, kitalah yang menghilang.

Austin Dobson

Wanita mencari pria yg mampu mendengarkan layaknya seorang ayah.
Pria mencari wanita yg mampu mengerti layaknya seorang ibu.

(via mbeeer)

Yes. Being able.

"Being able to walk in another person shoes."

Rusak tidak jika kuganti suasana hujan yang selalu jadi pujaan penggemar setianya dengan perkataan ini. Perkataan mengenai simpati dan empati. Tentu sudah tidak asing lagi bukan, mendengar kata-kata yang seharusnya sudah tertanam erat dalam diri kita.
Simpati dan empati. Dua hal berbenang merah tak terputus, atau bahkan terputus pada sebagian orang karena keengganannya.

Empatiku belum tentu tumbuh dengan beberapa simpati yang meloncat pada yang berarah.

Masih banyak orang yang belum memiliki empati. Tidak semuanya, kubilang. Ada yang tertutup rasa empatinya karena keengganan dirinya sendiri.

Terpaku pada perkataan di atas.

Jika dikata sebuah sepatu, sepatu yang selalu berpasangan dan takkan pernah berjalan sendiri. Milik kita. Ya. Dan kita melihat sepasang sepatu mereka. Mereka yang sepatunya sudah kusam dan tidak karuan. Satu pertanyaan muncul dari kata-kata yang menarik mataku.

"Maukah kau berjalan dengan sepatu mereka?"

Enggan atau tidak. Pertanyaan yang hanya bisa anda jawab sendiri. Tidak perlukan sepatu lain yang bersih tanpa noda. Tapi cobalah dengan sepatu mereka yang perlu dibersihkan. Atau hanya menemaninya saja sudah hilangkan noda-noda kecil berserakan di sepatu putihnya yang dulu.

Enggan atau tidak. Aku sendiri yang menulisnya. Mungkin tidak lebih baik darimu. Ya. Aku masih mencoba.

15:17
Bandung( di sisi kanan bangku kayu), 28 Juni 2014

Jalan lagi berjalan lagi. Jembatan itu berbelok ke arah berteduh. Aku butuh peneduhanmu dari beriak keraguanku yang berbelok tak tentu arah. Arahkanku. Ya. #22